

SAMOSIR – Perjalanan kasih dan iman Theresia Romanna Oktavia br. Naibaho, S.H., putri dari Bapak H. Naibaho, BSC dan Ibu R br. Simangunsong, bersama Chandra Oloan Sihaloho, putra dari Bapak I. Sihaloho dan Ibu Ri br. Silaban, berjalan indah melalui dua momen sakral yang penuh berkat. Kebahagiaan mereka diawali dengan pengikatan janji atau Martuppol, hingga puncaknya pemberkatan nikah yang dilangsungkan dengan khidmat dan sukacita.
Langkah awal dimulai dengan acara Martuppol, yaitu penukaran cincin dan pengikatan janji setia, yang telah digelar pada Selasa, 05 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, bertempat di Gereja HKBP Pintu Batu Reniate, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Ibadah ini berlangsung khidmat di bawah pimpinan Pdt. Junita boru Nainggolan, S.Th, di mana pelayanan firman dan khotbah disampaikan langsung oleh Guru Huria. Di hadapan mezbah Tuhan, keluarga besar, dan kerabat dekat, kedua mempelai saling bertukar cincin sebagai tanda janji hati yang terikat satu sama lain. Dalam pesannya, Guru Huria menguatkan hati Romanna dan Chandra, mengingatkan bahwa langkah yang dimulai di dalam Tuhan akan senantiasa dipimpin dan disertai-Nya, hingga rencana indah Allah menjadi sempurna di dalam hidup mereka.
Setelah janji suci itu terikat, tibalah saat yang paling dinanti, yaitu acara pemberkatan pernikahan kudus yang dilaksanakan pada Senin, 11 Mei 2026. Bertempat di Gereja HKBP Pangururan, ibadah sakral dimulai tepat pukul 10.00 WIB. Di Rumah Tuhan ini, keduanya resmi dipersatukan sepenuhnya dalam ikatan pernikahan, disaksikan oleh orang tua, kerabat, serta para tamu undangan yang hadir membawa doa restu.
Dalam khotbah dan pesan firman saat pemberkatan, Pendeta mengingatkan kembali rencana indah Tuhan mengenai asal mula pernikahan, sebagaimana tertulis di Kitab Kejadian. Dijelaskan bagaimana Tuhan menciptakan Adam, lalu melihat bahwa hidup sendirian itu tidak baik. Maka saat Adam tertidur lelap, Tuhan mengambil satu rusuk dari tubuhnya, dan dari rusuk itulah dibentuk Hawa, menjadi penolong yang sepadan baginya. Hal ini mengajarkan bahwa suami dan isteri sejatinya berasal dari satu asal — tulang dari tulangku, daging dari dagingku — diciptakan untuk saling melengkapi dan bersatu menjadi satu daging.

Pendeta pun menegaskan pesan tegas dari Tuhan Yesus: “Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Pernikahan bukan sekadar kesepakatan manusia, melainkan persekutuan kudus yang diatur dan disatukan oleh Allah sendiri. Oleh sebab itu, ikatan ini wajib dijaga seumur hidup, tetap setia dalam senang maupun susah, sehat maupun sakit.
Usai ibadah di gereja selesai dan menerima berkat Tuhan, kebahagiaan berlanjut ke lokasi Pintu Batu, Pangururan. Di sana diadakan jamuan makan bersama sekaligus rangkaian acara adat Batak yang penuh makna. Prosesi ini menjadi tanda bersatunya dua keluarga besar, Marga Naibaho dan Marga Sihaloho, di dalam kasih dan persekutuan iman. Para orang tua dan tetua adat menyampaikan nasihat serta doa restu, agar kedua mempelai senantiasa menjaga kasih, kehormatan, dan iman yang mereka pegang bersama.

Suasana berlangsung sangat hangat dan penuh sukacita, diiringi nyanyian pujian serta kebersamaan indah semua yang hadir. Romanna dan Chandra pun menerima doa agar senantiasa membangun rumah tangga yang takut akan Tuhan, saling mengasihi, dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar.
Keluarga besar kedua belah pihak mengucapkan terima kasih yang tulus atas kehadiran, dukungan, dan doa restu dari semua pihak, baik saat acara Martuppol maupun di hari pernikahan. Semoga kasih karunia dan damai sejahtera Tuhan senantiasa menyertai langkah hidup baru Romanna dan Chandra selamanya.

Editor: Jessica Bakara






