DULU SUDAH KAMI LAPORKAN: Sopir Maxim Lecehkan Anak di Bawah Umur, KINI DUGAAN KUAT: Maxim TIDAK BERTANGGUNG JAWAB, Tak Beri Santunan Sedikit Pun

BAKARATOBANEWS

SEMARANG, 1 Juni 2026 – Kasus keji yang pernah kami angkat dan rilis sebelumnya, di mana seorang oknum pengemudi Maxim berani melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap penumpang anak di bawah umur, kini berlanjut dengan hal yang sama sekali tidak terpuji. Meski pelaku sudah ditangkap dan diproses hukum, namun hingga hari ini, pihak perusahaan Maxim sendiri dinilai tidak punya itikad baik, arogan, dan sama sekali tidak bertanggung jawab.

Sebagaimana yang pernah kami sampaikan pada laporan lalu, kejadian naas itu menimpa seorang anak di bawah umur saat menggunakan layanan transportasi online Maxim. Di dalam kendaraan resmi, dengan identitas terdaftar di sistem, pengemudi yang seharusnya mengantar dengan aman justru berbuat tindakan tidak senonoh, mencoreng amanah, dan melukai jiwa seorang anak yang belum berdosa. Pelaku kini sudah berurusan dengan hukum, dijerat pasal berlapis UU Perlindungan Anak, dan dipastikan akan menerima hukuman berat di penjara.

Namun, di balik jeruji besi pelaku, ada satu pihak lain yang seharusnya paling bertanggung jawab dan menjadi garda terdepan memberikan perlindungan: Pihak Pengelola Maxim.

Saat kejadian itu meledak ke publik, pernyataan resmi Maxim sangat standar, dangkal, dan seolah melepaskan tangan: “Kami sudah blokir akunnya, kami sudah serahkan ke polisi, kami bantu data.” Hanya itu, tidak ada lebihnya. Tidak ada permohonan maaf langsung, tidak ada kunjungan, tidak ada pendampingan psikologis, dan yang paling menyakitkan: Tidak ada santunan sosial atau bantuan apa pun untuk pemulihan trauma anak tersebut.

TIM REDAKSI KONFIRMASI: Keluarga Pastikan Belum Ada Satu Pun Perwakilan Maxim yang Datang

Mencari kebenaran fakta di lapangan, tim media kami secara khusus mendatangi dan menanyakan langsung kepada keluarga korban. Kami menanyakan hal mendasar: “Apakah sudah ada pihak atau tim dari perusahaan Maxim yang datang menjenguk, meminta maaf, serta memberikan dukungan moril maupun bantuan sosial?”

Dengan nada kecewa dan mata berkaca-kaca, perwakilan keluarga korban menjawab tegas: “BELUM ADA SAMA SEKALI.”

“Sampai hari ini, sampai detik ini kami bicara sama Bapak/Ibu wartawan, belum ada satu orang pun perwakilan Maxim yang datang ke sini. Tidak ada yang menengok keadaan anak kami, tidak ada yang minta maaf, apalagi bicara soal bantuan sosial atau biaya pengobatan. Kosong, diam saja, seolah kejadian itu bukan urusan mereka,” ungkap keluarga korban dengan nada geram.

Keluarga menambahkan, mereka sangat kecewa karena selama ini Maxim gencar beriklan soal keamanan dan kenyamanan, tapi saat musibah menimpa pengguna jasa—terutama anak kecil—perusahaan itu justru hilang tak berbekas.

Maxim Cuma Ambil Untung, Lari Saat Ada Masalah

Fakta di atas makin menguatkan dugaan bahwa Maxim hanya mau meraup keuntungan besar dari masyarakat, tapi lari dan pura-pura tidak tahu saat ada masalah. Padahal, fakta hukum dan fakta bisnis sangat jelas:

1. Transaksi terjadi lewat aplikasi Maxim, uang dibayarkan ke sistem Maxim.

2. Sopir itu bekerja, beroperasi, dan memakai atribut atas nama Maxim.

3. Keamanan penumpang adalah kewajiban mutlak penyedia jasa, terlebih penumpang itu anak-anak yang statusnya dilindungi undang-undang.

Menurut aturan UU Perlindungan Konsumen dan UU Perlindungan Anak, Maxim WAJIB MENJAMIN KESELAMATAN DAN KEAMANAN setiap pengguna. Jika di dalam perjalanan terjadi kejahatan atau kecelakaan, penyedia layanan wajib bertanggung jawab penuh, mendampingi, dan memberikan ganti rugi/santunan atas kerugian materiil maupun moril.

Tindakan Maxim yang cuma memutus hubungan kerja sopir lalu diam seribu bahasa, apalagi sampai tidak mau menjenguk korban, adalah tindakan pengecut, tidak bertanggung jawab, dan jelas melanggar hukum.

Anak Sudah Sakit Trauma, Ditambah Lagi Dibiarkan Perusahaan

Anak korban kini mengalami trauma berat, ketakutan naik kendaraan umum, dan butuh penanganan psikologis khusus agar pulih kembali. Sudah disakiti pelaku, kini harus menelan kekecewaan mendalam karena perusahaan yang memfasilitasi kejadian itu sama sekali tidak peduli.

“Kami tidak minta muluk-muluk, setidaknya ada niat baik, ada rasa bersalah, ada tanda tanggung jawab. Tapi nyatanya nihil. Apakah keselamatan anak kami tidak berharga di mata mereka?” tambah keluarga korban.

Kelalaian Sistem Jelas Ada, Tapi Tidak Mau Mengaku

Kami juga kembali menegaskan: Kejadian ini tidak lepas dari kelalaian sistem Maxim sendiri. Kenapa orang berniat jahat bisa lolos jadi sopir? Kenapa pengecekan latar belakang tidak ketat? Kenapa tidak ada sistem pengawasan rute yang ketat? Maxim sering bilang “tingkatkan keamanan”, tapi faktanya di lapangan penyaringan masih sangat longgar, asal bisa bawa kendaraan dan punya KTP langsung diterima.

Dan kini, terbukti: saat risiko itu terjadi, Maxim menolak menanggung akibatnya.

DUGAAN KERAS: Maxim Melanggar Hukum & Etika

Berdasarkan fakta konfirmasi langsung ke keluarga, kami tegas menyatakan:

✅ Maxim Tidak Bertanggung Jawab: Tidak ada kunjungan, tidak ada bantuan = pengingkaran kewajiban hukum.

✅ Maxim Menambah Penderitaan Korban: Diam seribu bahasa = kejam dan tidak berperikemanusiaan.

✅ Maxim Arogan: Menganggap urusan keamanan penumpang cuma urusan sopir saja.

Kasus ini kami angkat kembali bukan sekadar mengingatkan, tapi menuntut keadilan. Pelaku sudah atau akan masuk penjara, tapi Maxim juga harus diadukan, disanksi, dan dipaksa membayar santunan penuh.

Jangan sampai ada anggapan: “Pakai Maxim aman? Kalau ada apa-apa, Maxim lari dan diam saja.

Kami akan terus awasi dan laporkan. Sampai kapan Maxim akan diam saja di atas penderitaan seorang anak?

 

(Tim Redaksi)

Editor: Jessica Bakara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *